Bisnis Kontemporer: Ibu Kandung dan Basmalah

Foto: Istockphoto/ @Pangerandiksi.com

Etika bisnis sudah menjadi kebutuhan universal manusia. Aktivitas bisnis apapun bentuknya, tanpa diiringi komitmen tinggi untuk menjunjung etika bisnis tidak hanya menghancurkan perusahaan tetapi juga menghancurkan kemanusiaan.
(Azhari Akmal Tarigan, 2016)

Semangat kapitalisme seseorang menentukan orientasi hidup bagi dirinya bagaimana meraih kemenangan atau kesejahteraan dengan cara apa saja. Demikian yang dikemukakan oleh seorang ahli kajian antardisiplin Max Weber (1864-1920) bahwa bekerja (mencari uang) adalah semangat kapitalisme yang membentuk harga diri seseorang.

Teore Weber menghendaki seseorang untuk giat bekerja bahwa apa yang dihasilkannya sebagai kemenangan maupun kekalahan adalah hal-hal rasional tanpa ada keterkaitan antara jiwa dengan spiritualitas. Begitu pun dengan sosialisme pada 1830 Karl Marx secara ilmiah memeprkenalkannya kepada dunia dengan dua prinsip filsafatis marxism yaitu, dialectic materialism dan surplus velue yang menganggap bahwa semua sejarah yang terjadi didasari oleh faktor ekonomi (materialistik).

Marx berpendapat, sejarah adalah perjuangan antara penindas dan tertindas. Saat ini perjuangan yang terjadi adalah kontra kelas kapitalis dan proletar kemudian akan dimenangi oleh kelas proletar yang menghendaki kehidupan masyarakat tanpa kelas dan meniadakan fungsi negara. Sampai dewasa ini dunia bisnis masih menciumi bebauan dari Max Weber dan Karl Marx dengan efek yang sama saja.

Baca juga, yuk! Sepatu Aerostreet Produksi Lokal, Keren dan Berkualitas, Kok Bisa Murah Banget?

Dunia bisnis kian mendapat paradigma sebagai aktivitas yang cukup buruk bahwa ‘Bisnis itu kotor, penuh dengan tipu daya’ terlihat sangat riskan bagi masa depan manusia karena masih berlakunya sistem konvensional. Walaupun, ada upaya bahwa di Indonesia perlahan belajar untuk mengaplikasikan spiritualitas universal dunia bisnis yang memberi solusi terhadap ketimpangan yang selama ini terjadi.

Tak terbantahkan, melihat fenomena bisnis yang terjadi seperti ‘Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’, kebebasan ekonomi yang menimbulkan kecurangan, monopoli pasar yang mengakibatkan kehancuran usaha kecil sehingga terjadi inflasi dan pengangguran, dan sistem bunga dalam lembaga keuangan yang mau tidak mau menjadi konsumsi masyarakat dan perlahan menghancurkan kemanusiaan. Tidak ada celah bagi yang menghendaki bahwa struktur kebebasan individualistis masih ada relevansinya terhadap orientasi bisnis dalam kehidupan kontemporer.

Syariah Hadir sebagai Ibu Kandung

Kebebasan meraih kesejahteraan (kemapanan ekonomi) adalah kehendak semua manusia. Seseorang berhak bahagia atas hidup dan kehidupannya. Namun, di sisi lain kebebasan secara sengaja menyiratkan makna yang terlalu sempit yaitu eksploitasi yang mengakibatkan hilangnya rasa persahabatan. Seseorang menganggap bahwa orang lain adalah kompetitornya sehingga membentuk pola pikir untuk bagaimana dapat menang dalam kompetisi.


Lagi-lagi kata ‘menang’ pun mengalami penyempitan makna. Dalam hal ini sistem syariah yang telah ada implementasinya sejak kenabian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentu dapat dikorelasikan dengan kehidupan bisnis kontemporer. Artinya, antara konvensional dengan syariah akan terjadi proses reformasi bahwa kerja yang dimaksud adalah bagian dari ibadah yang mengedukasi tentang keadilan, kepedulian, serta kedamaian hati.

Baca juga, yuk! Belajar Hidup tak Banyak Tingkah ala Khaby Lame, Why Not?

Islam rahmatan lil’alamin memberi makna secara tegas dan lugas bahwa secara muamalah Islam bersifat universal dasarnya, al asl fi al mu’amalat al ibahah (asal dari muamalah adalah kebolehan). Jadi, perbisnisan syariah seperti perbankan syariah, saham syariah, perhotelan syariah, pariwisata syariah, market syariah, dan lainnya tidak hanya diperuntukkan orang-orang Islam.

Adanya sistem kapitalisme dan sosialisme secara eksplisit telah menunjukkan karakteristiknya bagi peradaban dunia sehingga, para pakar memiliki dasar untuk berargumentasi atas probelematika terhadap sistem tersebut. Utamanya, kehadiran sistem syariah tidak hanya mengkritik fenomena yang terjadi, tapi juga memberikan solusi secara universal yang tujuannya adalah maqashid asy syari’ah yaitu, falah melalui hayyah tayyibah, mencapai kebahagiaan dunia akhirat melalui tatanan kehidupan yang baik dan terhormat.

Layaknya ibu kandung yang mencintai anaknya. Maka, seorang ibu tidak akan mau menyengsarakan. Begitupun sistem syariah sebagai bentuk spiritualitas bisnis yang tidak hanya mengedukasi bagaimana memeroleh laba. Namun, ada pilar yang harus diwujudkan yaitu, akhlaqul karimah. Terbentuknya pribadi yang bermoral adalah tujuan puncak dari seluruh ajaran Islam, oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari, Adabul Mufrad No. 273).

Aktivitas Bisnis dengan Basmalah

Tauhid merupakan keniscayaan dari etika dan spiritulitas bisnis Islam. Azhari Akmal Tarigan dalam bukunya menuliskan, ada dua hal yang membentuk kesadaran dalam diri setiap muslim bahwa tauhid sebagai paradigma bisnis Islam. Pertama, setiap orang harus menyadari bahwa alam ini merupakan ciptaan Allah yang diperuntukkan kesejahteraan manusia sekaligus Allah sebagai pemilik mutlak.

Baca juga, yuk! Cerpen: Reztya Ice Cream Karya Pangeran Diksi

Kedua, Allah menciptakan manusia ke dunia untuk mengabdi kepada-Nya yang kemudian menjadi nilai-nilai ibadah. Sistem syariah mengajak para pelaku bisnis turut merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitasnya. Menyambung apa yang dikemukakan oleh Azhari bahwa, kesadaran yang terpatri dalam diri setiap muslim akan berpengaruh positif bagi bisnisnya.

Tentunya hal ini dapat terlihat dari kepribadian yang baik bahwa dalam setiap bisnis melalui basmalah yakni bagaimana seseorang melakukan bisnis dengan melibatkan Tuhan sehingga merasakan kehadiran-Nya sekecil apapun yang dicapai, Allah Maha Rahman dan Maha Rahim kepunyaan-Nyalah semua di bumi dan langit maka setiap laba bisnis yang diperoleh bukanlah semata dari jerih payah sendiri melainkan belas kasih Tuhan yang Maha Kaya dan Pemberi kekayaan, al ghaniy wal mughni. (Pangeran Diksi)

Rekomendasi artikel buat kamu

4 Komentar

  1. […] Baca juga, yuk! Bisnis Kontemporer: Ibu Kandung dan Basmalah […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *