Cerpen: Reztya Ice Cream Karya Pangeran Diksi

Ilustrasi: Istockphoto/ @Pangerandiksi.com

Iseng-iseng menulis namaku “Iin Prasetyo” di mesin pencarian Google, sebuah cerpen “Reztya Ice Cream” ketemu di Analisadaily.com. Cerpen ini ditulis pada 2014 (waktu aku masih SMA). Ide dan sudut pandangnya masih sederhana, tapi pas lagi membacanya cukup menggugah. Tulisan ini aku unggah kembali di blog ini, terima kasih Analisa, sudah menjadi rumah buah pikirku sejak belia.

SUARA permisi mamak memecah keheningan kamar seluas 3×4 meter itu. Chintya duduk di kursi belajar sedang asyik membaca puisinya yang baru saja dimuat di koran nasional.

“Ada apa, Mak?” tanyanya.

“Chin, ayahmu sudah nggak kerja lagi. Dia diberhentikan karena sudah tua untuk jadi sekuriti di kantornya. Terus, kau tahulah kalau kerjaan mamakmu ini tukang cuci yang gajinya sekali se­minggu, cuma cukup untuk makan tiga hari. Si Ali adikmu sekolah juga. Ini pun mamak nggak tahu si Farhan adik bungsumu tahun depan bisa daftar sekolah. Daftar­nya mungkin bisa, tapi tetek bengek segala macamnya?”

Curahan hati mamak membuyarkan kegembiraannya. Puisinya yang dimuat di koran itu sudah tak nikmat lagi dibacanya. Biasanya sampai lebih sepuluh kali ia membaca ketika karyanya dimuat. Tapi kali ini hanya sekali baca saja, itu pun belum selesai.

Baca juga, yuk! Cerpen: Siasat Karya Pangeran Diksi

“Chin, kau berhenti sekolah ya? Biar mamak tanyakan kerjaan untukmu. Waktu itu mamak dengar-dengar di kios dodol Pasar Bengkel cari cewek jaga toko. Gajinya lumayan, Rp900 ribu per bulan, ada gaji hariannya juga. Mau kau, Chin?”

Mendengar cakap mamak hatinya bergejolak, palak, rapuh, pilu. Seenteng itu orangtuanya bicara. Tidak dewasa, terlalu pasrah. Tapi apa yang dapat ia perbuat. Toh, selama ini ia hanya menikmati statusnya sebagai pelajar yang baik, salehah dan berprestasi. Tanpa pikir bahwa ayahnya yang pontang-panting mencari uang untuk penghidupan keluarga.

Sepertinya, ini saatnya ia memikirkan cara memperoleh uang. Untungnya ia masih bisa berpikir jernih dan tidak pasrah seperti ibunya. Tak ada yang dapat menjengkalkan rezeki dari Allah. Allah tidak mengubah suatu kaum kalau tidak ada niat baik dan pantang menyerah dari kaum itu sendiri, pikirnya.

Minggu pagi ini, dalam kegentingan, ia memikirkan sekolahnya yang tinggal dua semester untuk tamat SMA. Bagai­mana bisa ia mengiyakan suruhan ibunya yang tanpa pikir perasaan anaknya, ia terus berpikir apa yang dapat diperbuat agar tidak putus sekolah tatkala ujian nasional telah di ambang pintu.

“Chin, lagi apa?” suara bapak memecah keheningan Chintya.

“Nggak, Pak, baca buku saja”.

“Chin, tadi bapak dengar apa yang diomongi mamakmu. Tapi jangan kau ambil hati, ya? Kau harus tetap sekolah bagaimana pun caranya. Bapak masih kuat kerja. Tapi, bapak bingung kerja apa”.

“Alah…! Uang dari mana untuk sekolahnya? Untuk besok saja ada ongkosnya ini, dia sekolah sama adiknya tapi bayar uang lesnya, segala macam banyak pungutan yang katanya sekolah gratis, itu apa? Apa harus kuruntuhkan dulu Tugu Monas biar kuambil emasnya dan kujual?” sahut mamak kasar di luar kamar.

Baca juga, yuk! Peluang Pengetik dalam Buku Antologi ‘Yang Lahir Hilang Menangis’ Karya Alda Muhsi

Chintya semakin tak habis pikir terhadap keputusan ibunya. Apakah tidak ada jalan lain yang dipikirnya agar anaknya yang pintar itu tetap sekolah?

“Sudahlah, besok kuantar kau ke toko biar kerja saja, tidak usah sekolah lagi. Tinggalkan sekolahmu. Cari uang saja untuk beli beras. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh ke dapur juga nanti kau!” sambung mamak emosi.

“Eh! Jaga mulutmu, Mak! Bisa-bisanya kau cakap seperti itu sama anakmu. Kalau anakmu bodoh, pemalas, tukang melawan, penjahat baru kau cocok bicara seperti itu. Ini apa nggak kau tengok anakmu pintar, terus juara, piala piagam bejibun, punya cita-cita tinggi, rajin salat. Pikirlah, Mak, beri dia motivasi. Bukan kau yang mengatur rezeki dia untuk bisa sekolah, sabarlah kau, Mak. Kan sudah bapak kasih uang pesangon pember­hentian bapak, itu dulu yang disyukuri kita enggak tahu rezeki besok atau lusa.” Segala emosi bapak diletuskan pada mamak.

Chintya bangga kepada bapak yang sudah renta masih ada semangat untuk bekerja cari uang belanja dan sekolah anaknya. Ia jadikan ini sebagai dorongan agar tetap semangat bersekolah.

Chintya mendapat ide agar ia bertahan sekolah. Baru-baru ini ia telah selesai mengadakan praktek kimia kewira­usahaan di sekolah. Dalam praktek tersebut ia diajarkan oleh gurunya tentang cara membuat es krim dengan cara yang sederhana, yaitu dengan peralatan rumah tangga yang pasti ada di setiap rumah. Ia memiliki modal untuk menjalankan praktek ini baik moril maupun materil, ia memiliki deposito yang ditabungnya sejak SMP, uang itu didapatnya dari honor menulis di media cetak, mengikuti berbagai perlombaan serta honor meng ajar les privat. Ia tertegun melihat total depositonya yang sebesar Rp2.572.000 itu.

Ia sangat bersyukur dapat menyimpan uang sebanyak itu. Ia beranggapan, dirinya telah berhasil mendidik dirinya sendiri untuk berlaku hemat. Ia teringat kata mutiara dari motivator, “Sikap hemat itu tidak membuatmu kaya, tapi bisa menundamu dari kemiskinan.“

“Bapak masih kuat dayung sepeda ‘kan?”

“Kenapa, Chin? Ya masih kuatlah. Ngangkat kau aja bapak masih kuat. Ngangkat jempolnya, hehe….”

“Hehe… Bapak ini bisa aja, Bapak mau jual es krim gak? Chintya tahu cara buatnya, gampang kok. Baru saja dipraktekkan di sekolahku.”

“Wah, ide bagus itu, tapi bapak nggak ada modal untuk beli segala keper­luannya. Uang pesangon PHK bapak sudah bapak kasih ke mamakmu semua. Banyak modalnya itu Chin. Ban sepeda kita sudah tidak bisa dipakai, gerobak untuk wadah es krimnya perlu dibeli. Segala peralatan untuk pembuatannya. Aduh mana ada uang, Chin”.

Dengan senyum tipisnya, Chintya menunjukkan deposito miliknya. Bapak terbelalak melihat total uang sebanyak itu dan terheran dari mana ia mendapatkan uang itu. Chintya pun menjelaskannya, bapak yang bijaksana itu mendengarkan. Kagum, terharu melihat anaknya yang cekatan menyediakan payung sebelum hujan.

Pagi menjelang siang itu juga Chintya dan ayahnya mempersiapkan segala yang diperlukan dengan cepat dan tepat. Mereka pergi ke pasar untuk membeli segala bahan dan peralatan untuk jualan es krim perdananya.

Sesampainya di rumah, tak membuang waktu mereka langsung memroses es krim. Segala proses dari awal hingga akhir dilakukan dengan sukacita penuh canda dan kisah cerita bapaknya ketika sulitnya mempertahankan sekolahnya dulu.

Tak butuh waktu terlalu lama untuk membuat es krim. Chintya dengan cekatan memrosesnya dengan bantuan bapak. Patut saja, waktu praktek membuat es krim di sekolahnya kelompok Chintya es krim ternikmat. Selesailah pembuatan es krimnya, lalu mereka mencicipinya. Nikmat, mantap, lezat, sejuk di teng­gorokan. Hilanglah rasa capek dan gundah di hati mereka.

“Es krim ini bapak beri nama ‘Reztya Ice Cream’, unik ‘kan? Gerobak dan sepeda pun sudah bapak hias sedemikian rupa”.

“Bagus, Pak, tapi ngomong-ngomong ‘Reztya Ice Cream’ artinya apa, Pak?’

“Reztya itu singkatan dari Rezekinya Chintya, hehe…,” bapak melucu.

Hari sudah di ujung petang. Mentari hampir tak kelihatan di ufuk barat. Bapak belum juga pulang membawa sisa-sisa es krim yang dijualnya.

“Ke mana Bapakmu? Udah jelang maghrib belum menampakkan batang hidungnya? Eh, jangan lupa ya besok pagi kau sudah kerja di toko,” ketus mamak.

“Sebentar lagi bapak pulang, Mak. Besok aku harus sekolah karena ada praktek kimia dan penjaskes. Kalau Mamak tak ada uang untuk sekolahku sementara kupakai dulu sisa uang tabunganku.”

“Kau benar-benar gak nuruti apa kata orangtua ya? Berapa miliar tabunganmu itu, ha?!” Mamak semakin marah atas jawaban putrinya itu.

Tak lama ucapan salam bapaknya masuk ke rumah. Membawa kabar gembira bahwa es krim yang perdana dibuat tadi laris manis diserbu anak-anak sekolah sore. Chintya senang sekali mendengarnya. Dan perempuan pelajar cerdas itu semakin optimis bahwa dengan usaha es krimnya ia dapat terus lanjut sekolah.

Mamak tertegun malu. Anaknya berinisiatif mencari peluang agar sekolahnya tak putus, tapi mamak mematahkan semangatnya. Betapa indahnya sekolah bagi anak yang mau terarah. Mamak memeluknya.*Cerino, 2014

*Telah diarsipkan di Analisadily.com pada Sabtu, 26 November 2016

Rekomendasi artikel buat kamu

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *