Cerpen: Siasat Karya Pangeran Diksi

Ico muncul dari balik sesemak. Lisbet makin terkejut. Dua lelaki itu semakin menggeranyangi seluruh tubuh Lisbet yang wanginya menambah gairah mereka. Lisbet tengah mendesis seperti menikmati permainan dua lelaki itu namun juga mengerang dan menangis, ada ketidakrelaan dalam jiwanya. Lisbet pergi bersama Niel dengan memakai setelan baju berlengan terbuka hingga menampakkan bahu dan lengannya serta rok pendek sedikit di atas lutut. Kini Lisbet tengah tak mengenakan setelan itu. Dua lelaki itu entah kapan selesai berperilaku seperti predator berebut mangsa.

Niel memberhentikan motornya. Lisbet heran. Mereka telah setengah jalan di perkebunan karet yang hampir sepanjang satu kilo meter, sementara malam sudah pukul sembilan. Ia bertanya apa yang Niel lakukan. Lelaki itu tak menjawab pertanyaanya. Tiba-tiba ia memeluk Lisbet dari belakang dan meyingkap roknya. Niel melakukan ragam aktivitas mendapati Lisbet bak makanan yang sangat lezat.

Lisbet mengiyakan ajakan Ico. Malam nanti mereka akan pergi memenuhi undangan pernikahan temannya di kota. Sebenarnya Lisbet malas pergi. Seminggu yang lalu ia sempat menghadapi konflik dengan Ico. Ico terlalu ceroboh untuk kesekian kali mengajak hal yang tidak-tidak dengannya. Lisbet menilai ini adalah jalan baik berdamai dengannya, tidak ada salahnya untuk menghangatkan suasana kembali. “Iya, sayang. Aku pasti dandan yang cantik,” ujar Lisbet lewat sambungan telepon dengan Ico.

Sambungan telepon mereka berhenti dengan ucapan penuh kasih. “Iya, sayang. I love you too, emuahhh,” Lisbet menutup percakapan yang berlalu hampir dua jam itu.

Malam Rabu akan mereka isi dengan jalan berdua. Lisbet berpikir kalau saja rumahnya berada dekat dengan kota maka ia akan pergi saban hari dengan Ico. Icolah pria paling berani mengunjungi rumahnya yang berada di pelosok desa. Selama sebulan ini Ico sudah beberapa kali datang ke rumahnya. Sementara, Senin depan Lisbet akan menjalani ujian akhir semester. Ujian yang paling penting, bila tidak mengikutinya akan sangat susah mengajukan permohonan ujian susulan. Namun Ico terus memelas mengajaknya dengan dalih akan pergi dengan wanita lain dan akan bermesraan. Sontak Lisbet menolak rencana kekasihnya dan melupakan ujian yang akan menentukannya naik ke kelas XII. Pria yang telah tamat sekolah dan tinggal di kota itu menunjukkan kebahagiaanya pada Lisbet selayaknya mereka telah saling mengenal lama.

Malam telah datang. Setelan baju telah menanti untuk mempercantik dirinya. Ponsel Lisbet memanggil. Ico berbisik-bisik dalam ponsel itu.

“Sayang, maaf ya aku nggak bisa jemput kamu. Tapi nanti kamu dijemput Niel, jadi siap-siap ya. Aku masih ada kerjaan nih, bye-bye ummmahhh.” Lisbet tak sempat mengatakan “iya” bisikan itu seketika hilang, ponselnya menggerutu tuttt… tuttt.

Baju biru bercorak merah serta rok berwarna merah ia kenakan. Kalung emas dua puluh empat karat bertuliskan “L” hadiah ulang tahun dari ibunya semakin memolekkan penampilannya. Lipstik merah muda pun melukis bibirnya yang tebal mengikuti lekukannya, begitupun bedak yang menghidupkan sinar wajahnya. Sepatu hak tinggi berkisar lima centi membantu menopang dan menambah tinggi tubuhnya. Ia berkaca dan berputar ke kiri-kanan sesekali menyibakkan rambutnya yang ikal panjang, tersenyum dan bibirnya mencium udara. Ia membayangkan menjadi artis iklan lipstik di televisi. Lisbet kini merasa cantik sempurna.

Niel telah datang membawa amanat dari Ico. Lisbet keluar dari rumah. Niel memandangnya seperti produk yang berhasil guna dan telah siap pakai. Niel terbelalak memandang betis jenjang kekasih temannya itu. Ia seperti tak sabar membongkar rasa ingin tahunya.

Cerpen: Siasat Karya Pangeran Diksi

Motor dengan tempat duduk menjungkit itu siap membawa Lisbet ke tempat tujuan. Jantung Niel berdentang, melebihi detak detik. Darah seperti mengalir deras di sekujur tubuhnya. Ia merasa ada sesuatu yang bangkit dalam tubuhnya tatkala kedua tangan Lisbet sedikit melingkari pinggangnya dan merasakan tubuh Lisbet menempel di badannya. Jeritan motor yang parau itu pun makin tak terdengar dari depan rumah Lisbet.

Perjalanan mereka telah memasuki kawasan perkebunan karet. Jalan ramai akan suara jangkrik dan motor yang mereka tunggangi. Tak ada satu pun kendaraan yang berpapasan dengan mereka. Perlahan demi perlahan Niel memberhentikan motornya di tempat yang telah menjadi kesepakatannya dengan Ico. Heran. Lisbet pun turun dan menggerutu. Untuk mengurangi kekesalannya, Lisbet memainkan ponselnya dan membelakangi Niel yang sibuk melihat-lihat motornya. Perlahan. Niel bak harimau menerkam mangsanya dari belakang.

“A-a-a-paan ini, hem’em, Niel!” Lisbet tak bisa meneriak. Tangan Niel cekatan menjamah seluruh tubuh Lisbet hingga terduduk di bawah pohon yang telah disediakan tikar. Lisbet meringis. “Ja-ja-jangan Niel. Hak-ha-emmm,” Lisbet tak bisa berbuat apa-apa. Niel meminimalisir kain yang membalut tubuh Lisbet. Samar ia melihat sosok lelaki yang seminggu lalu cekcok dengannya muncul membantu kelakuan bejat Niel. *cerino, 2018/ @pangerandiksi

*) tulisan ini telah tayang di Harian Jurnal Asia

Rekomendasi artikel buat kamu

1 Komentar

  1. […] membawa namamu ke suatu malam paling […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *