Larik: Tamatnya Cerita Ayam Lada Hitam Karya Pangeran Diksi

Ilustrasi: Istockphoto/ @Pangerandiksi.com

Tamatnya Cerita Ayam Lada Hitam

Semburat petang membawa kita bercerita tentang hari ini. Sepucuk bibir menyeletuk di mana akan kita bawa rasa sebab barangkali ada yang tersuruk di lubuk kalbu
sepasang tempat duduk membersamai kita di suatu kafe — dan nasi ayam lada hitam juga menjadi salah satu perbincangan kita; “Sejak kapan kau memfavoritkan menu ini?” kita saling bertanya

Baca juga, yuk! Ibu Kita Kartini Putri Sejati, Pemikirannya soal Emansipasi sampai Pernah Dikira Murtad

; apakah ada luka hari ini; apakah dada kita akan lebam dalam nyala api; atau apakah kita saling segan untuk membicarai sesuatu yang tersembunyi.
Pembicaraan ayam lada hitam telah kita tamatkan seiring terjawabinya rasa lapar.
Dan kita belum juga membaca prolog cerita di kafe ini.
Tiba-tiba petang tak bisa bersetia dan kita kembali membawa bejibun pertanyaan.

piano, 2020/ @pangerandiksi

Bersikeras untuk Sebuah Temu

Sebait wajahmu makin tak mengakhiri bulan lalu; makin kauteteskan;
makin nanar ketika kita bersikeras untuk sebuah temu; makin rayu
akulah benua kala masa yang kauteteskan,
menyuburkan luka sedalam asa, dan jarak yang makin tak bisa dipadu.

Baca juga, yuk! Larik: Puisi-Puisi di Dada Bu Ngadiem Karya Pangeran Diksi

Bulan ini kau menemuiku dalam sebungkam lamun; dalam carik-carik diksi usang; dalam sepasang mata yang kuyu
kau merupa nanar yang rayu; memikirimu adalah siksa, siksa yang kunikmati — sebab bayangmu ialah candu
Sampai kini izinkan aku tetap menjadi bagian yang saling kita lupakan. Mari menginsafi gulir waktu; waktu yang tak akan kembali seperti apa yang kita putuskan kala itu.

Baca juga, yuk! Cerpen: Reztya Ice Cream Karya Pangeran Diksi

Sehitam malam jiwamu menyatu dalam sepi; betapa puisi-puisi bulan ini menjadi hari kebangkitan kenangan
maaf, aku tak bisa seperti waktu yang saat itu sempat kita asakan.

piano, 2020/ @pangerandiksi

Saat Kemarau

Juni kan menemui hujannya
dan kemarau hendak mendatangi tempat tidur
dan daun jendela bersiap menghalau gerah
tak juga bisa panas dijaga —
yang dijaga hati yang lebih suka menanti gerimis
tapi suatu malam langitnya hitam manis
dan siangnya awan putih mulus
bunga kapuk dikhayal salju oleh rumah tangga yang tengah berapi
hem, jangan begitu dong
kemarau saja tak mudah tersinggung
bila tiba-tiba ia disiram hujan
bahkan ia memberi selusin warna bianglala.

piano, 2020/ @pangerandiksi

Renjana Malam

Malam adalah rembulan yang menyambangi jendela kamar seorang perempuan: menulis bait-bait pertanyaannya
kecupan angin pada dedaunan dan reranting mangga; melang-meling embun di pucuk teki, tanpa puja-pujinya.

Baca juga, yuk! Sepatu Aerostreet Produksi Lokal, Keren dan Berkualitas, Kok Bisa Murah Banget?

Ia menghitung bahwa ini sudah kembali bulan Empat seperti isi kesepakatan mereka sejak lama
perempuan dengan renjananya masih menggenggam angin dari segala ingin,
sementara malam adalah waktu yang akan beranjak
dan rindunya belum juga pada di ujung pena yang telah kehabisan air mata.

piano, 2020/ @pangerandiksi

Bahasa Patah

Jarak telah merajam begitu kejam
membungkam bahasa patah dalam asa
telah kedirian larut tepekur di lindap malam
berkesiur bayu merenjana pada daun telinga
biarlah candra tak merunut malam yang lebam
biarlah aku ke pelimbahan mengakhiri tetesan luka.

piano, 2020/ @pangerandiksi

Rekomendasi artikel buat kamu

2 Komentar

  1. Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

  2. […] Larik: Tamatnya Cerita Ayam Lada Hitam Karya Pangeran Diksi […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *