Larik: Puisi-Puisi di Dada Bu Ngadiem Karya Pangeran Diksi

Ilustrasi: Istockphoto/ @Pangerandiksi.com

Narasi-Narasi Malam

Malam katanya tidak terlepas dengan gelap dan dingin, pun sepi
saat kita pertama kali memuasalkan kata-kata yang paling puisi,
tak kutemukan fakta hakikat malam adalah sepi di dada sendiri
sebab dikau ada membersamai. Nama dan titah-titah sesejuk malam kautuliskan ke paling dalam sanubari.

Kepada bunda kaukatakan sepi itu ilusi di antara kita berdua dan kepada sahabat-sahabat kita kaubilang titip salam sebelum narasi-narasi itu kita mulai.
Suatu malam kuterperanjat titah-titah pada biasanya belum kaugubah malam ini;

Baca juga, yuk! Belajar Hidup tak Banyak Tingkah ala Khaby Lame, Why Not?

ada yang kita alpakan saat ruang-ruang percakapan begitu luang, rindu tak kita rumuskan masalahnya, dan malam-malam sebelumnya begitu saja selesai.


Piano, Desember 2020

Kalimat Taksa

Telah aku mendapati taksa dari isi pembicaraan yang belum lama kita mulai.
Telah aku tak melanjutkan mendengarkan dan menentukan pola-pola kalimat yang kauungkapi.
Sepertinya kita harus belajar dulu bagaimana membuat kalimat, baru cita-cita kehidupan bersama bisa kita mulai.


Piano, Desember 2020

Hati-Hati dalam Berteman

Aku ingin bicara tentang sejarah yang melepuh; dimuasalkan dari sikap yang merajam detak, terperanjat aku
bagaimana teman hidup bisa menjadi pisau menuju sanubari yang telah lama ditandur bunga-bunga amanah — kini lesu
seruni tak lagi ingin tumbuh, dan kakak telah bertitah: hati-hati dalam berteman, sebab teman bisa bicara apa pun tentangmu.

Piano, 2020

Aku Pergi, Menitipkankan Sejarah kepada Entah

Aku pergi,

kala detik-detik senja tinggal pucuknya
meninggalkan kota di mana telah banyak diciptakan puisi
aku pergi, menitipkan sejarah kepada entah.

Mawar-mawar belum layu. Sepucuk demi sepucuknya punya makna yang kaukemukakan: tentang cita-cita kita di masa nanti.

Baca juga, yuk! Bisnis Kontemporer: Ibu Kandung dan Basmalah

Tapi, histori telah asing di mata yang telah menuliskan asal kata puisi: apa pun tentang kita. Dan hari ini, telah diutarakan keputusan bahwa malam, hitam, sepi, dingin, ternyata benar-benar ada, terlebih ditambah sebak di dada dari risalah silam yang pernah kita eja.

Piano, Desember 2020

Puisi-Puisi di Dada Bu Ngadiem

1/
Aku belum sempat mengerti tentang luka, konon bagaimana siuman dari itu
kurasa telah banyak puisi yang ditulis Bu Ngadiem tentang goresan-goresan di dadanya dari seorang pria
kehidupan tak begitu lurus untuk ditapaki, tapi puisi-puisi paling sanubari yang ia tuliskan menyiratkan pantang patah.

Baca juga, yuk! Cerpen: Siasat Karya Pangeran Diksi

Itulah Bu Ngadiem, dari hidup yang tak selalu baik, tapi ia selalu berupaya baik.
Dan hidupnya telah dicukupkan Tuhan di mana ia juga telah menamatkan puisi-puisi seorang wanita, emak, istri — tentang bertahan dari luka.

2/
Bagaimana emak bisa mencukupkan hidupnya dari anak-anak yang mengalirkan tangis di pundaknya
tapak telah dijalani, tujuan telah ditentukan biarpun waktu dirasa tak lagi mau berdamai dengan ceritanya: sendiri menapaki jalannya rumah tangga.

Bu Ngadiem rupanya mesti mengalah dengan waktu, dengan apa pun di dunia, termasuk puisi-puisi yang telah ia bacakan kepadaku, nina bobok oh nina bobok kalau tidak bobok digigit nyamuk.

Piano, Desember 2020

Rekomendasi artikel buat kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *