Peluang Pengetik dalam Buku Antologi ‘Yang Lahir Hilang Menangis’ Karya Alda Muhsi

Alda Muhsi dalam buku antologi ‘Yang Lahir Hilang Menangis’ ditemukan dirinya dalam keadaan yang utuh dan alamiah. Bekas itu tampak cukup kentara dari cerpen Pengetik.

“Malam itu hujan turun sangat deras. Ia yang baru saja tamat dari kuliah sastranya sedang berteduh lepas seharian mencari kerja. Memang sulit mencari kerja di tengah kota walaupun berijazah sarjana. Bagaimana pula jika hanya tamat SMP atau SMA? Rasanya jawabannya ada di sekitar kita,” tulisnya (hal. 81).

Yang Lahir Hilang Menangis, Alda Muhsi, 2019, Medan: Obelia Publisher


Alda mendekatkan pembaca dengan cara melihat nilai-nilai kehidupan dari cerita yang riil; dekat dengan apa yang selama ini biasa di mata orang-orang yang sadar atau tidak ternyata menjadi budaya.

Jadi, ceritanya si Pengetik ini adalah pekerjaan yang diawali ‘minta tolong’ sesama kawan. Si kawan
tersebut adalah seorang wartawan koran, tapi passion-nya bukan mengetik berita yang ia liput, ia cuma senang mewawancarai narasumber. Kok ada, ya wartawan koran bentuknya kayak begini?

Waktu berjalan. Si Pengetik yang Sarjana Sastra masih menjadi pengangguran. Dan, sebuah peluang tercipta. Ia tak lagi menggratiskan jasanya. Walau sesama kawan justru harus lebih bersikap saling menghargai.

Memang, budaya di negeri +62 ini pahitnya berbisnis jika dikaitkan dalam pertemanan akan berlaku hukum ‘harga kawan’ yang bunyinya “Harga kawan menunjukkan nilai minimal transaksi yakni antara 0 – 1“. Artinya, 0 menunjukkan tidak adanya nilai transaksi, sedangkan 1 menunjukkan keterpaksaan dan penekanan harga yang secara nisbi menyakitkan satu pihak. Paham?

Contoh cerita, “Aku sudah putuskan untuk berprofesi sebagai pengetik. Kalau profesi artinya ada
imbalan, ada gaji, paling tidak honor dari apa yang kuketik,” (hal. 85).

“Ah kau ini macam tak kawan aja,” komplain Deramatja si wartawan koran yang malas mengetik
beritanya.

“Justru karena kawanlah kau harus dukung aku. Aku mulai paham menciptakan sesuatu yang dibutuhkan orang bisa sangat menguntungkan,” (hal. 85).

Secara sangat sederhana tapi tetap bernas cerpen Pengetik mengingatkan pembaca untuk tidak menyerah dan harus menciptakan peluang sendiri. Dan kalau masalah bisnis harus tegas dengan kawan tanpa ada ‘hukum harga kawan’. Bisnis adalah bisnis; kawan adalah mitra yang saling dukung dan untung. Cocok?

Tentu saja, rezeki berbisnis itu bisa saja datang melalui kawan, meskipun tidak berlaku ‘harga kawan’. Contohnya si Pengetik yang memulai bisnisnya dari kawannya. Waktu berjalan, bisnisnya pun makin berkembang, makin banyak permintaan pembuatan skripsi, tesis, disertasi, dll. hingga ia pun mendirikan penerbitan dan percetakan dengan brand ‘Dunia Tik’, apa arti nama itu?

Rekomendasi artikel buat kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *