Larik: Sunyi di Warenhuis Karya Pangeran Diksi

Foto: Jalan Kesawan Medan depan Tjong A Fie/ @Pangerandiksi.com

Sunyi di Warenhuis

Setidaknya kau segan dengan fakta sejarah yang nyaring bunyinya, di sini kota telah masyhur. Warenhuis, 1919 telah diresmikan oleh Daniel Baron Mackay wali kota pertama.
Pakar masa lalu meneroka di situs yang kita sambangi ini pernah menjadi sumber kejayaan kota tua. Setidaknya kau segan bahwa sunyi telah panjang kali lebar dipelihara di sini.

Gerard Bos datang dari Jerman telah membidaninya. Arsitektur telah kokoh sampai kau danku merencanakan bertemu dan membicarakan masa depan sambil menyusuri pilar-pilarnya yang menantang matahari dan jalan Hindu.

Baca juga, yuk! Larik: Puisi-Puisi di Dada Bu Ngadiem Karya Pangeran Diksi

Wali kota sekarang telah bertitah, Warenhuis dalam wacana. Ia akan dilahirkan kembali seperti yang kauinginkan supaya kau jangan lagi terus-terusan ke Jogja.

Sunyi telah lama dibangun di sini, sayang. Masihkah kau bertahan melihat yang lebih menawan? Kota kita memang sudah tua, dan kita masih bisa kembali di sini.

Katakan, aku akan kembali ke Warenhuis selekasnya. Sebab di sini ada sunyi yang harus dipatah-patahkan sampai kau danku semakin fasih berbicara, berjanji, dan menjawab rindu paling kalbu.

2021/ @pangerandiksi

Kuajak Kau ke Kesawan

Dari jalan Ahmad Yani sebelum ke Balai Kota mari kita bercerita di sepanjang jalan ini tentang buyut-buyut kita yang menulis risalah silam berdirinya sebuah kota.
Supaya kau tak terlalu mengelu-elukan kota mantan kekasihmu. Ada rindu di sini dan kuajak kau berdiskusi; kembalikan jiwa kita.

Kesawan sebenarnya menawan. Malam tidak tidur di sini; sejarah kota terus berteriak kepada anak-anak muda untuk pulang dan membangun daerah.

DAFTAR ARTIKEL LAINNYA:

Ada yang terus melafalkan rindu paling fasih di jalan tertua kotanya orang-orang Melayu ini. Dan juragan-juragan Tionghoa sepenuh ingin merawat pendiriannya.

Kuajak kau ke tanah ini. Betapa syahdu nyanyian masa lalu dibanding kini ceracau mesin-mesin kendara yang menawar sunyi diriku. Kuajak kau untuk membicarakan hari tua kita.

2021/ @pangerandiksi

Dari Perselisihan Cornfield dan Hüttenbach

Tuan Daniel Baron Mackay akan berbicara, tidak ada sunyi di ibu kota Sumatera. Lampu-lampu menuntun langkah dan orang-orang akan menetapkan harga. “Sambutlah Warenhuis, ia dilahirkan bukan untuk orang-orang hening. Ini akan jadi fakta sejarah yang semerbak di kota kita.”

Baca juga, yuk! Larik: Tamatnya Cerita Ayam Lada Hitam Karya Pangeran Diksi


12 November 1920, ia menggunting pita itu disaksikan oleh Tuan dan Nyonya Cornfield, Hüttenbach, Gerard Bos, dan orang-orang yang ke Kesawan. Warenhuis dibuka sebagai pusat belanja termegah di tanah Deli.

Adalah seorang Yahudi, Heinrich Hüttenbach, bagian erat dari dibidaninya Warenhuis oleh Gerard Bos bersama Ng A Tan, kontraktornya dari Tionghoa.

Ia datang ke Deli dan membuka toko Hüttenbach, toko Eropa pertama di Kampung Labuhan Deli — sampai Is Cornfield juga menjadi bagian gemilang dari Hüttenbach & Co. yakni direktur bisnis retail N. V Medan’s Warenhuis. Lalu mereka menjadi debu dan arang dari seunggun api.

Tidak ada lagi Cornfield atas nama direktur. Tak terima ia. Lalu, dalam rapat umum luar biasa pemegang saham, perselisihan diselesaikan dengan diangkatnya kembali Cornfield. Usaha Warenhuis berkembang hingga gedung baru pun akan dibuka.

Wali kota meletakkan batu pertama dan Bos pun mulai membangun. Selesai. Warenhuis dibuka bukan cuma untuk Belanda. Semua kalangan memenuhi kebutuhannya. Dan tidak ada sunyi dibiarkan untuk kita di sini.

2021/ @pangerandiksi

Jatuhnya Olympia

Pantas saja kau beberapa kali ditinggal pacarmu lalu datang kepada sahabatmu yang menyayanginya juga dan kau bilang: aku sakit mungkin karena rindu. Duh, gajah-gajah Sumatera pun tertawa kautanamkan buah pikir paradoksal di relung hati.


Olympia masih jadi kenangan manis meski kau tak akan lagi menjemputnya. Dari terminal Amplas kau lihat papan jurusan angkot itu masih tertulis “Olympia”. Penarik becak yang menaklukkan lulusan sarjana sepertimu itu bilang bahwa plaza tertua yang belum habis terbakar bernama Olympia.

Belanda sudah kalah. Dan kau percaya diri menjawab pertanyaan esai ujian akhir semester kalau Cornelis de Houtman dan kawan-kawannya menjajah 350 tahun lamanya. Seenteng kau bilang seminggu tak bertemu seolah sewindu rasanya.

Olympia belum jatuh. Di hati ayah dan emak kita dia masih tumbuh. Coba tanya mantan pacarmu, apakah dia tahu Olympia? Atau dia lebih mengerti sahabatmu semalam celana dalam warna apa yang dipakai.

2021/ @pangerandiksi

Sari

Seorang anak yang lagi mencoba sarinya diajak ke Pajak Ikan Lama oleh ibunya. Dia ogah dan bilang: ibu saja, nanti yang masak saya. Dia takut melihat belut. Ibu bingung tapi ya, sudah kalau enggan ikut pergi.
Dan ibu pergi. Ia akan membeli sepotong kain batik untuk anak pertama almarhumah adiknya yang baru lolos ujian CPNS. Seorang Tamil berkata: biarpun Belanda membuka Pasar Central, tidak ada sunyi di sini.

Baca juga, yuk! Cerpen: Reztya Ice Cream Karya Pangeran Diksi

Ibu percaya kepada ketulusan sejarah. Gedung-gedung tinggi menutupi toko-toko itu sehingga anak-anak zaman kini tak begitu mengerti. Saat Raya ibu-ibu dari segala penjuru berdatangan ke pasar yang menghidupi kota ini.

Sari dari ibu akan dipakainya saat perayaan tahun baru Hijriah di sekolahnya. Kira si anak itu dari Gujarat karena melihat budaya di suatu tayangan serial televisi.

Ibu sudah pulang. Si anak menyambut salam dan masih mengenakan sarinya. Lalu ibu meminta makan dari masakan yang dijanjikan. Anak mengeluh belum memasak karena ibu mengapa lama kembali.

2021/ @pangerandiksi

Mengusung Tn. Sanusi Pane

Orang seperti Anda langka — justru orang lebih menuntut ingin dihargai perasaannya; ingin dimengerti dan lebih terampil bersakit-sakit hati. Sekali menulis makalah saja sudah ingin gelar profesor; sekali mengutip sepucuk sampah di jalan sudah ingin Kalpataru.


Orang-orang bersaksi, ahli sejarah pun meneroka, kalau Tuan berjasa bagi merdeka. Namun, Tuan sekenanya menolak anugerah dari presiden kita. Kita mengenang lahirnya bahasa Indonesia dari Sumpah Pemuda; ada nama Sanusi Pane yang ketahuan tak tidur dan tak bungkam dalam membidani tiga sumpah di forum itu; kata Tuan: itu masih bukan apa-apa.

Sampai zaman berjalan kini. Namamu belum abadi dalam sebuah harga sorang pahlawan. Tuan sudah tak bisa menolak lagi. Namamu telah diusung. Kami bersabar, sebab presiden hari ini masih bekerja dalam sambutan gelar profesor seorang tokoh yang melahirkan selembar makalahnya.

2021/ @pangerandiksi

Rekomendasi artikel buat kamu

2 Komentar

  1. […] Baca juga, yuk! Larik: Sunyi di Warenhuis Karya Pangeran Diksi […]

  2. […] kota telah mati, sementara sejarah masih nganga di kepala mengisahkan kita […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *