Notula Jurnalistik (1): Joseph Pulitzer, Jurnalisme, Jurnalistik, dan Pers

Foto: Sebuah wawancara di Museum Deli Serdang/ istimewa @Pangerandiksi.com

Public relation (PR) atau kehumasan memang dulunya bagian dari sumber berita utama yang membuat jurnalisme belum mandiri untuk menggali laporan. Proses kerja jurnalisme hanya cukup dibantu oleh konferensi pers dan kemudian diterbitkan di media massa.


Dalam buku Panduan Menjadi Jurnalis Profesional, R. Toto Sugiharto mengisahkan bahwa, seorang jurnalis terlambat mengikuti konferensi pers sehingga tidak mendapat laporan untuk konten siaran di media tempatnya bekerja. Namun, siapa sangka dari keterlambatan itu telah terbuka jalan bahwa jurnalisme baru telah ditemukan.


Josep Pulitzer namanya. Ia dikenal sebagai pelopor jurnalisme baru di Amerika Serikat. Ingat jurnalisme, ingat Pulitzer, barangkali ungkapan itu bisa menggambarkannya sebagai pewarta yang dikenal sepanjang masa. Jurnalis kelahiran Mako, Hungaria, 10 April 1847 ini pernah bekerja untuk perusahaan penerbit New York World yang merupakan salah satu koran sensasional (yellow journalism).

DAFTAR ARTIKEL LAINNYA:


“Karena bagian humas kepolisian menolak mengulang keterangannya untuk Pulitzer, akhirnya Pulitzer mencari informasi seorang diri. Ia mendatangi dan menanyai pemilik toko yang menjadi korban pencurian,” tulis Toto pada halaman 9-10 buku terbitan Araska, 2019 itu. Pulitzer mendapatkan informasi yang menarik bahwa ada karyawan toko yang izin tidak bekerja karena sakit. Ia pun lebih dalam mencari tahu karyawan toko tersebut.


Hingga pada akhirnya warga St. Louis heboh karena berita pencurian di toko itu disajikan oleh Pulitzer berbeda dengan berita media lain yang sebatas keterangan dari humas. Betapa tidak, tulisan Pulitzer yang lengkap dengan narasumber membuat nilai beritanya mendapatkan kredibelitas penuh dari masyarakat. Saat itu, Pulitzer mengemas tulisannya dengan tiga narasumber, yaitu pemilik toko, ibu si karyawan toko, dan penjaga loket tiket kereta api.


Saat itu Pulitzer mencari tempat tinggal si karyawan toko tersebut. Ditemukannya, seorang ibu karyawan itu memang tahu kalau anaknya bekerja di toko tempat kejadian pencurian, tetapi ibunya bilang: si anak pergi ke stasiun untuk tujuan ke luar kota.

Baca juga, yuk! Sepatu Aerostreet Produksi Lokal, Keren dan Berkualitas, Kok Bisa Murah Banget?

Pulitzer pun melacak keberadaan si karyawan toko itu dengan menemui bagian kasir loket kereta dan ia mendapati bahwa informasi tentang lelaki sesuai dengan ciri-ciri si karyawan toko itu. Tulisan Pulitzer pun ditindaklanjuti oleh kepolisian. Dan ditemukan fakta bahwa pencurian di toko tersebut dilakukan oleh karyawan yang saat itu izin tidak bekerja.


“Sejak saat itu pula teknik reportase ala Pulitzer ditiru wartawan dari koran lainnya dan menjadi tren. Sehingga, dalam perkembangan kemudian, jurnalisme menggunakan prinsip independen dengan metode kerja cek dan ricek serta berimbang atau cover both side,” pungkas Toto dalam satu subbab ‘Kewartawanan di halaman 11.


Di lain sisi, seiring berjalannya waktu, Pulitzer punya rencana besar terhadap New York World. Jurnalis Tirto.id, Aulia Adam menulis tentang Pulitzer dengan judul Joseph Pulitzer, dari Imigran hingga jadi Taipan.

Baca juga, yuk! Ketika Bangsa Lain Ikhlaskan Bahasa Melayu Disebut sebagai Asal Mula Bahasa Indonesia

“Setelah membeli koran itu dari seorang taipan bernama Jay Gould dengan harga 346.000 dolar AS, ia berniat untuk menjadikannya bacaan yang lebih menghibur, lengkap dengan foto-foto, permainan, dan kontes-kontes yang akan diundi buat pembaca baru. Koran yang baru dibelinya itu rugi sampai 40.000 dolar tiap tahunnya. Siasatnya adalah menjual berita-berita sensasional,” tulis Aulia di kolom Sosial Budaya yang dipublikasikan pada 18 Juni 2018 itu.


Jurnalisme, Jurnalistik, dan Pers


Aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V menerangkan jurnalisme berarti pekerjaan mengumpulkan dan menulis berita di media massa cetak atau elektronik; kewartawanan. Jika berbicara -isme tentu menambatkan makna pada satu paham atau dasar berpikir seperti misalnya individualisme (berpikir bebas bagi setiap orang); sosialisme (segala aset warga negara milik negaranya), dan -isme-isme lainnya. Maka bisa diartikan, jurnalisme adalah konsep bagaimana suatu pemberitaan disiarkan sehingga media pemberitaan punya karakter tertentu.


Jurnalisme setidaknya dibagi atas jurnalisme warga (dilakukan oleh warga selain wartawan profesional), jurnalisme kuning (topik berita dikemas secara sensasional berbeda dari substansi isinya), jurnalisme presisi (dilakukan dengan pendekatan ilmu sosial), jurnalisme lher (topik sensasional yang kebanyakan mengarah ke hal-hal seks), jurnalisme damai (disebut juga jurnalisme baru, berisi hal-hal yang mendamaikan), jurnalisme kepiting (topiknya memilih ‘jalan tengah’ tapi bukan ‘jalan aman’, tidak masuk ke hal-hal mendalam yang berisiko), jurnalisme advokasi (selain fakta berita diselipkan juga opini publik), jurnalisme alternatif (lebih berfokus pada pemberitaan tertentu secara profesional), dan jurnalisme sastra (gaya bahasa fiksi dijadikan alat untuk mengemas berita lebih menarik).

Baca juga, yuk! Siapa Mohammad Tabrani Sosok di Balik Bahasa Indonesia?


Jurnalis atau pewarta; wartawan adalah orang yang menghimpun berita. Jurnalistik adalah bidang kerjanya. ‘Jurnalistik’ berasal dari kata ‘diurna’ yang selanjutnya menjadi ‘jurnal’. Pada 100 Masehi, Pemerintahan Roma, Julius Caesar membiasakan mengumumkan kebijakan atau perintah melalui papan pengumuman sejenis majalah dinding yang disebut acta diurna (laporan harian). Sedangkan secara bahasa, dari aplikasi KBBI V, jurnalistik adalah seni kejuruan (Komunikasi) yang bersangkutan dengan pemberitaan dan persuratkabaran.


Khazanah jurnalistik semakin berkembang sejak penemu berkebangsaan Jerman, Johannes Gutenberg membuat mesin cetak dengan sistem kerja topress atau menekan. Hingga akhirnya, mesin topress itu lebih familiar disebut mesin press.

Baca juga, yuk! Cerpen: Siasat Karya Pangeran Diksi

“Istilah khusus teknologi mesin cetak yang disebut mesin ‘press’ itu kemudian melekat pada bidang profesi jurnalis atau yang berkecimpung di bidang kewartawanan atau jurnalistik, yang kemudian disebut sebagai orang press,” tulis Toto pada halaman 14 dari buku setebal 239 halaman itu.


Di Indonesia, pers telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Salah satu pertimbangan dibentuknya UU ini adalah karena kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Baca juga, yuk! Atur Keuangan Jadi Lebih Baik di BSI Tabungan Rencana, Nggak Ribet plus Gratis Asuransi


Arti pers dalam UU yang ditandatangani Presiden BJ. Habibie pada 23 September 1999 itu, pada Bab 1 Pasal 1 (1) diterangkan sebagai: “Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia”.

*) Artikel ini telah saya tulis sebelumnya untuk Lpmdinamika.co pada 7 Desember 2020.

Rekomendasi artikel buat kamu

3 Komentar

  1. […] Notula Jurnalistik (1): Joseph Pulitzer, Jurnalisme, Jurnalistik, dan Pers […]

  2. […] ASDiKaMBa (Apa, Siapa, Di mana, Mengapa, dan Bagaimana) adalah kaidah dalam proses kreatif karya jurnalistik. Salah satu karya jurnalistik, indepth reporting (laporan mendalam) diharuskan lebih menggali […]

  3. […] Notula Jurnalistik (1): Joseph Pulitzer, Jurnalisme, Jurnalistik, dan Pers […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *