Notula Jurnalistik (3): Indepth Reporting

Foto: Saat wawancara ke Museum Deli Serdang/ Dok. @Pangerandiksi.com

Formula ASDiKaMBa (Apa, Siapa, Di mana, Mengapa, dan Bagaimana) adalah kaidah dalam proses kreatif karya jurnalistik. Salah satu karya jurnalistik, indepth reporting (laporan mendalam) diharuskan lebih menggali informasi dari formula ‘mengapa dan bagaimana’.

Laporan mendalam lebih mengupas background (latar belakang) suatu informasi dari banyak sisi (cover both side) yang tidak sekadar memberi tahu bagi pembaca, tapi juga turut memahamkan pembaca sehingga bisa menjadi referensi.

Septiawan Santana K. dalam jurnalnya Perjalanan Depth Reporting mengistilahkan laporan mendalam sebagai liputan the long story. “Jika berita-berita macam the spot dan hard news memiliki materi yang pendek, ringkas, dan sekilas, maka the long story adalah pelaporan berita yang dibuat secara panjang, mendalam, dan penuh muatan data,” tulisnya pada halaman 235/243 dalam ejournal.unisba.ac.id (MEDIATOR, Vol. 2 No. 2, 2001). The long story disusun secara sistematis, well-organized, dan harus membawa pembaca tertarik untuk berada di sebuah perjalanan yang panjang.

DARTAR ARTIKEL LAINNYA:

Karya jurnalistik berupa laporan mendalam biasanya dapat ditemui di majalah, seperti Tempo, Gatra, Pantau, dll. Seiring perkembangan media, kini laporan mendalam juga dapat diakses di media daring, seperti Tirto.id, Tempo.co, adalah media yang konsen dalam menyajikan laporan mendalam.

Penyajian laporan mendalam mengutamakan konsentrasi penggalian bahan untuk menjawab pertanyaan angle (bidikan topik berita). Istilah angle familiar digunakan oleh kalangan pewarta, kalau kalangan peneliti menyebutnya dengan research questions.

Angle atau research questions yang tajam akan mempengaruhi proses dan teknik penghimpunan bahan atau data di lapangan dengan melalui riset, reportase, dan wawancara.

Baca juga, yuk! Notula Jurnalistik (1): Joseph Pulitzer, Jurnalisme, Jurnalistik, dan Pers

Bagaimana cara menulis laporan mendalam? Tentu sangat sulit apabila seorang pewarta menulis berita indepth secara terus-menerus dan dalam waktu yang sama. Berita indepth adalah berita yang ditulis atau dilaporkan yang diberangkatkan dari berita-berita singkat sebelumnya.

Oleh karena berita tersebut masih perlu ditinjau kembali dan dikupas secara detail dan jelas maka indepth reporting adalah cara yang dapat dilakukan. Menulis indepth reporting membutuhkan tiga langkah utama, yaitu prapeliputan, liputan, dan pascaliputan.

Dalam persiapan praliputan, pewarta setidaknya telah menghimpun data/fakta dari berita-berita atau informasi-informasi yang ada sebagai bentuk riset. Lalu, tentukan angle dan fokus agar isi berita terkonstruksi dengan jelas.

Baca juga, yuk! Notula Jurnalistik (2): Straight News Adalah

Sebagai penuntun agar topik liputan tetap memiliki fokus dan memiliki batasan tema, pewarta diharuskan membuat Term of Reference (ToR)/ Kerangka Acuan Kerja (KAK). KAK berisi latar belakang masalah berita dan daftar pertanyaan serta narasumber yang akan diwawancarai.

Selanjutnya peliputan, pewarta mulai bekerja berdasarkan KAK, mulai menghimpun informasi-informasi dari narasumber yang relevan dengan wawancara. Narasumber juga menentukan kualitas berita, karena narasumber adalah kunci kepercayaan pembaca pada isi berita.

Dalam mewawancarai narasumber kadang pewarta bisa saja menghadapi karakter yang tidak diinginkan, misalnya sulit ditemui, terbatas dalam memberi keterangan, bahkan sampai menguji nyali pewarta. Tentu seorang pewarta harus siap menghadapi bagaimana karakter narasumber.

Yang paling utama bagi pewarta adalah harus memahami masalah dengan detail soal isu yang ditanyakan, jika ada dugaan-dugaan negatif pewarta juga harus bisa mengemukakan data/fakta kepada narasumber yang bersangkutan agar dapat dijelaskannya.

Notula Jurnalistik (3): Indepth Reporting/ @Panerandiksi.coM

Baca juga, yuk! Larik: Sunyi di Warenhuis Karya Pangeran Diksi

Setelah pewarta menghimpun data/fakta di lapangan, langkah selanjutnya adalah perampungan konstruksi indepth reporting yaitu pascaliputan dengan menulis dan menyunting hasil wawancara. Dalam menulis, bisa saja pewarta memulai kalimat dengan pernyataan narasumber yang memiliki pesan khusus, kontroversial, dll.

Atau bisa dengan kalimat pengantar yang berisi data/fakta menarik. Penyuntingan sebelum diterbitkannya indepth reporting sangat perlu untuk menilai apakah telah memenuhi kaidah jurnalistik. (Pangerandiksi.com)

Rekomendasi artikel buat kamu

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *