Notula Jurnalistik (4): Feature News

Foto: Dok. @Pangerandiksi.com

Zulhasril Nasir dalam bukunya terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010, yang berjudul Menulis untuk Dibaca: Feature & Kolom, menerangkan bahwa feature disebut tulisan bercerita. “Dapat disebut tulisan bercerita yang mendalami sesuatu hal, baik dari suatu peristiwa atau pun permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Ia dapat bersifat menghibur, informatif, tidak mudah basi; atau dapat mengungkapkan sesuatu yang ada dalam kehidupan kita yang tidak dilihat oleh publik,” terangnya pada halaman 44.

Diterangkannya lagi pada halaman 47 dari Adinegoro, 1966, bahwa feature lebih mirip pada periang, penghibur lara dari pada untuk memberikan informasi pendidikan dan nasehat. Panjangnya boleh sebagaimana dikehendaki dan feature bukan fiksi melainkan fakta oleh sebab itu diperlukan reporting.

DAFTAR ARTIKEL LAINNYA:

Berhubung jurnalistik merupakan seni kejuruan (keterampilan) tentang pemberitaan dan persuratkabaran, dan yang dimaksud seni adalah sesuatu yang luar biasa (indah) maka, feature tentu merupakan bagian dari seni itu.

Jurnalistik adalah ilmu selera bukan ilmu pasti. Artinya, mulai dari definisi hingga pada proses kreatifnya jurnalistik dapat diberangkatkan dari banyak sudut pandang. Akan tetapi, tentu karya jurnalistik memiliki sistematika dasar yang menjadi rambu-rambu proses konstruksinya.

Ibaratnya, jika kita hendak memasak nasi tentu harus menggunakan air sebagai bahan utama agar nasi bisa dapat diproses masak, lalu sebagai penghantarnya nasi bisa dimasak melalui api dan listrik dengan perkakas periuk atau rice cooker.

Baca juga, yuk! Notula Jurnalistik (3): Indepth Reporting

Begitu juga karya jurnalistik, tentu informasi fakta-data sebagai bahan utamanya. Khususnya feature, walaupun proses konstruksinya dikemas dengan gaya bahasa bercerita dan memiliki perbedaan yang prinsipiel dari karya fiksi, tapi aturan pokoknya tetap harus ada verifikasi formula ASDiKaMBa dan reportase.

Adapun ciri-ciri atau karakter dari feature, yaitu:

  • Informatif selayaknya berita yang dibangun atas formula ASDiKaMBa. Informasi dan karakter tulisan yang diungkapkan lebih luas dari pada straight news,
  • Menghibur, feature sebagai hiburan tidak melulu harus membuat pembaca tertawa, bisa saja mencengangkan, sedih, dll. yang menggambarkan deskripsi suasana,
  • Mengungkapkan rasa berkisah, deskripsi suasana dirangkai dengan gaya bahasa yang khas. Tapi, tetap saja feature ini adalah karya jurnalistik bukan karya sastra yang bermain dengan diksi. Bahasa yang digunakan dalam feature adalah bahasa yang lugas, bukan bahasa yang sulit dikonfirmasi seperti pengungkapan waktu dalam kata “konon” atau “beberapa waktu yang lalu”, dan pengungkapan lainnya yang bermakna klise,
  • Panca indera turut terlibat dalam proses kreatif feature. Ketajaman panca indera bisa saja mengungkap hal yang tersembunyi sehingga bisa menjadi sesuatu yang menarik menjadi berita,
  • Tidak mudah basi, sebab feature adalah berita tidak langsung yang sengaja dicari informasinya lebih luas dan tetap penting diberitakan.

Feature dalam ragamnya dibedakan atas:

Baca juga, yuk! Notula Jurnalistik (2): Straight News Adalah

  • Profile feature (sosok), mengisahkan perjalanan hidup seseorang, latar belakangnya, bagaimana ia gagal dan sukses, menciptakan sesuatu yang menginspirasi,
  • How to do it feature (tip), menjelaskan agar pembaca melakukan sesuatu yang menjadi alternatif. Misalnya, menuliskan perjalanan wisata, bagaimana rutenya, seperti apa tantangannya, dan/ atau seberapa dana yang harus dikeluarkan,
  • Science feature (ilmu pengetahuan), memberitakan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya, saat terjadi gerhana bulan, apa saja kupasan-kupasannya, bagaimana gerhana dapat terjadi, serta seperti apa fenomena alam dan sosial yang menyertainya,
  • Human interest feature, menceritakan bagaimana hal-hal menarik yang menyentuh perasaan, menceritakan hobi dan kesenangan, kegiatan komunitas, yang intinya manusia sebagai objek pentingnya.

Fatimah Mardiyah, dari blog.tempoinstitute.com (5/12/2019) dalam artikel berjudul Membuat Berita Feature, Menggali Cerita di Balik Berita membagi empat elemen penting saat menulis feature yang ia adopsi dari buku Jurnalistik Dasar: Resep dari Dapur Tempo tulisan Bramantya Basuki, dkk.

Baca juga, yuk! Ketika Bangsa Lain Ikhlaskan Bahasa Melayu Disebut sebagai Asal Mula Bahasa Indonesia

  • Angle, agar tulisan memiliki satu titik fokus yang jelas. Aspek dan sudut pandang yang ditentukan harus penting dan menarik. Ketika angle dibuat secara jernih dan tajam, dalam langkah-langkah selanjutnya seperti mentukan bahan dan riset serta narasumber akan lebih mudah,
  • Alur, feature bisa saja diberangkatkan dari kronologi atau pun kilas balik. Feature juga bisa ditulis dengan alur konvergen (beberapa peristiwa dijadikan satu di ujung cerita sehingga ada simpulan yang jelas) atau divergen (suatu peristiwa dikaitkan dengan kisah-kisah lain),
  • Konteks, pembaca harus dipahamkan dengan apa alasan yang dibuat si penulis agar tulisannya penting untuk dibaca,
  • Fokus, tulisan harus berfokus pada angle yang telah ditentukan. Jangan sampai fokus menjadi hilang karena ada bahan lain yang menarik dari angle. (Pangerandiksi.com)

Rekomendasi artikel buat kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *