Cerpen: Lebaran tanpa Ahok

“Apa yang kau ketahui tentang Lebaran, kong?”

 “Lebaran atau disebut juga Raya 1 Syawal itu ibarat momen bagi rapor anak sekolah pada setiap akhir semester. Sebelum bagi rapor anak sekolah tengah dihadapkan pada ujian-ujian sebagai penentu nilai dan prestasi yang akan dicatat di lembaran rapornya. Lalu berapa pun nilai dan apa pun keterangan yang diterakan dalam rapor tersebut kita patut bersyukur dan bersabar.”

 “Coba perjelas analogi semacam itu.”

 “Hehe, haya lu orang payah paham bahasa implisit, ha? Jadi gini, sebelum 1 Syawal tiba pasti kita jalani puasa Ramadan, ‘kan? Saat puasa itulah kita ujian, ujian menahan lapar dahaga, birahi, dan hal-hal yang mengurangi nilai-nilai ujian itu. Orientasi dari puasa itu sendiri kan untuk menggapai falah, laallakum tattaquun. Lepas tuh, masuklah yang namanya 1 Syawal yang merupakan hari diakumulasikannya nilai dari ujian selama genap tiga puluh hari. Nah, di 1 Syawal inilah kita merasa apakah kita mendapat gelar laallakum tattaquun.”

Baca juga, yuk! Cerpen: Siasat Karya Pangeran Diksi

Entah apa susahnya Kong Ahok bilang Lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa bulan Ramadan, ini kan pas, sesuai penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia—tanpa pakai analogi bagi rapor segala.    

 “Ha, cemanalah kita tahu kalau nilai ujian kita di bulan Puasa ini sama halnya dengan yang diterakan di rapor? Jelaskan secara eksplisit.”

DAFTAR ARTIKEL LAINNYA:

“Pertanyaan kamu sama seperti UAS mahasiswa semester VII Jurusan Filsafat, ya. Kalau secara eksplisitnya kita nampak bahwa nilai ibadah Ramadan kita bagus itu ya akan terlihat konkret di diri masing-masing orang. Artinya, kebajikan apa saja yang dilakukan saat Ramadan bertahan sampai setelah habisnya momen itu, ia akan tetap salat lima waktu dan berjamaah, berinfak dan bersedekah, tahajud, baca Alquran, bertutur kata yang baik dan benar, bertoleransi, dan sifat-sifat baik lainnya.”

Lebaran tanpa Ahok

Gumam “Ohhh” kulafalkan agak panjang tanpa memperpanjang pertanyaan. Sebab sudah kulihat napasnya terengah-engah memaparkan hal itu saja.

Baca juga, yuk! Larik: Ayat-Ayat Purnama

Tarawih malam kelima belas masih saja ia menguatkan langkahnya ke masjid yang berjarak 50 meter dari rumah. Usianya tak muda lagi, 71 tahun. Sunnah seperti tarawih saja dikejarnya apalagi wajibnya.

Sebut sajalah aku ini anak angkatnya sebab, ia tak mau menamakanku sebagai asisten pribadinya. Walau lebih tepatnya sebagai asistennya yang ia angkat enam tahun silam. Setelah istrinya meninggal, aku selalu menjadi kawan setianya untuk kegiatan apa pun termasuk tarawih.

Walau ia tak lagi sanggup melakukan salat dengan sempurna seperti berdiri, rukuk, dan sujud, ia salat duduk di kursi khusus yang aku sediakan—tidak ada beban baginya bergabung dengan para jamaah yang rata-rata orang Melayu dan Minang menggemakan lantunan Allahumma shalli wassalim wabarik alaihi dengan oktaf tertinggi. Tidak heran bagi jamaah lain bahwa suara paling memekakkan itu adalah suara pria sepuh berbadan tinggi berisi dan berkaca mata, Kong Ahok.

Baca juga, yuk! Larik: Kisah Puisi

Usai tarawih kami selalu tak langsung pulang. Kadang ikut tadarusan bersama anak-anak remaja masjid dan Kong Ahok bersama para pengurus masjid dan jamaah lainnya sering berbincang-bincang di teras masjid. Kebetulan ia juga termasuk orang yang dituakan dan sebagai salah satu penasihat masjid. Wajar saja ia selalu tidak langsung pulang setelah salat.

Paling lama setiap pukul 22.30 kami pulang.

Di rumah sepi, cuma ada kami berdua dan Bik Las. Koh Beng dan istrinya sedang berada di Siantar. Anak semata wayangnya itu selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Kong Ahok sudah memakluminya, siapa lagi yang meneruskan bisnisnya yang berada di Siantar, Sibolga, Medan, dan Pekanbaru kalau bukan Koh Beng. Saat jelang Ramadan ini saja ia baru berada di rumah pada puasa ketujuh dan kembali pergi semalamnya.

“Kong minum dulu obatnya, ya.”

 “Ah, kamu ini selalu saja menyiksaku dengan obat-obat itu. Sekali-sekali kek kasih aku opor ayam, sup iga, lemper, risol.”

“Baiklah, besok kita buat opor ayam. Kita Lebaran duluan.”

 “Haha, bisa aja lu ngeledek orang sepuh.”

***

Sahur.

Heran. Tak biasanya engkong belum keluar dari kamarnya. Sementara Bik Las sudah menyiapkan makanan di meja makan untuk kami.

“Bik, Tuan belum keluar, ya?”

Baca juga, yuk! Larik: Puisi Sepi

“Belum Koh, mungkin masih tahajud atau masih tidur. Coba Koh Dendi masuk saja. Tadi bibik panggil nggak ada sahutan.”

Aku coba masuk ke kamar. Ternyata ia masih pulas sementara sudah jam 4.00. Biasanya dia paling marah kalau aku belum keluar kamar jam segini.

Aku mulai curiga. Sepulas ini dia tidur. Biasanya, ia tidur mendengkur. Tapi kini tak kudengar sementara ia terlihat begitu lelap.

Aku menghampirinya.

“Kong, bangun kong. Sudah jam empat lewat, nih,” tegurku dengan menepuk pelan tangannya.

Atagfirullah.

Ahok lelaki yang menolongku dari keterasingan keluarga sendiri. Ia yang membawaku pada keyakinan baru, ilmu-ilmu baru, perlakuan-perlakuan baru, yang memperkenalkanku dengan sahadat, salat, puasa. Ia terpejam selamanya. Dengan damai.

Muara air dari ujung mataku jatuh mengenai selimutnya.

“Engkongggggg”

Innalillahi wa innailaihi rajiun.

“Kong, aku janji mau kasih opor ayam hari ini. Maafkan aku.”

***

Ini kali pertama aku berlebaran tanpa Ahok, engkong yang sudah membersamaiku sejak enam tahun. Hidup menjadi asisten rumah tangga keluarga Tionghoa beragama Islam sungguh unik kurasa. Namun itu hanya terjadi sampai lima tahun ke belakang. Tahun ini sunyi. Koh Beng anak tunggal darinya memang terlihat dingin kalau sedang mengobrol tidak seperti ayahnya yang bahkan sampai mengajakku bercerita dan bertanya-tanya soal studiku.

Aku yang memang sudah dianggap seperti keluarga di rumah ini kadang segan untuk memulai obrolan yang santai-santai. Paling tidak kami bicara seperlunya. Begitupun dengan istrinya, Ci Elisabet yang baru saja ia nikahi tiga bulan sebelum Lebaran ini. Apalagi saat sekarang mereka masih terpukul saat meninggalnya ayah tercinta pada malam kelima belas Ramadan lalu. Rumah semakin hening.

Baca juga, yuk! Cerpen: Reztya Ice Cream Karya Pangeran Diksi

Aku merasa seperti hidup sebatang kara. Tidak ada lagi teman bincang. Koh Beng beberapa hari ini memang di rumah tapi seperti biasa kami jarang bicara. Terakhir, dua hari setelah engkong meninggal Koh Beng banyak menanyakan hal bagaimana peristiwa duka itu bisa terjadi. Dan aku pun menjelaskan secara detail. Tak hentinya air mata kami memuarai pipi. “Sudahlah, kita harus tetap bersemangat jalani hidup ini. Demi papi,” ujar Ci Elisabet menguatkan kami.      

Suara takbir yang menggema di seluruh penjuru arah membuat malam di rumah ini semakin sendu. Kulihat di sofa ruang keluarga Koh Beng tengah menangis sedang Ci Elisabet tengah menguatkannya. Aku selalu segan menghampiri mereka. Mungkin kali ini aku harus menghampirinya untuk bertanya soal zakat apakah sudah ditunaikan atau belum, karena biasa engkong saja yang membayar ke masjid dan Koh Beng tak tahu menahu.

“Maaf Koh, Ci, saya cuma mau tanya atau mengingatkan apakah zakat fitrah udah Koh Beng dan Cici sudah dibayar?”

“Sudah, Den. Sudah saya bayar tiga hari lalu,” jawab Koh Beng sambil mengusap air matanya lekas-lekas.

Setelah menanyakan hal itu pun aku segera pamit ke belakang namun, Koh Beng memanggilku untuk duduk bareng dan berbincang.

 “Den, maaf ya kalau saya selama ini mungkin tidak seperti papi yang sering bersenda gurau sama kamu. Mungkin kamu juga seperti merasa lebih jauh dari keluarga ini setelah papi tidak ada. Tapi, Den, saya harap kamu tetap bersama keluarga ini, ya. Kamu sudah seperti adik saya sendiri. Pesan papi, kita jangan sampai putus komunikasi.”

Senang sekali aku mendengar ujaran Koh Beng. Aku merasa tetap ada di rumah ini.

Rekomendasi artikel buat kamu

4 Komentar

  1. Secara gamblang, Kong Ahok mengartikan bahwa selama Ramadan umat Islam melakukan berbagai aktivitas keagamaan, seperti puasa, salat, sedekah, membaca Alquran, bertutur kata baik dan santun, serta menunjukkan toleransi dan sifat-sifat baik lainnya. Kegiatan ini merupakan ujian bagi akhlak dan keimanan seorang muslim. Lebaran adalah saat dimana seorang muslim dapat melihat seberapa baik yang telah mereka lakukan dalam kegiatan tersebut dan merefleksikan kinerja mereka. Semakin baik prestasi mereka, semakin tinggi “nilai” mereka dalam “rapor” Lebaran.

  2. Bahagia banget si Engkong. Meninggal di bulan penuh berkah tanpa merepotkan siapapun. Damai sekali seperti orang tidur saja begitu. Tampaknya sebagai muslim itu adalah impian yang paling membahagiakan.
    Teringat almarhum ayah kami saat meninggal juga tampak memeluk erat adik paling bungsu di rumah. Diam tanpa kata. Kemudian adik lelaki kami menggendong ayah ke ruang tamu menyadarkan. Setelah kami talkin kan ia memang telah tiada.

  3. Aduhhh aku sampai nangis bombay mbacanya..
    Semoga si Engkong husnul khotimah ya….
    dan si ‘aku’ tambah akrab sama koh beng itu

  4. Hidup ini memang misteri. Hari ini kita masih bisa bercengkerama, tetapi besok siapa tahu. Rasanya jarang ada orang yang meninggal di bulan baik, terlebih di bulan suci Ramadan. Kalau ada pun mereka salah satu orang yang spesial. Ah, mau kapan pun kita dipanggil, hal yang terpenting adalah lakukanlah yang terbaik selagi mampu dan berlakulah dengan kebaikan. Engkong mungkin tidak ada di dunia, tapi dia sudah hidup di dalam hati dan membersamai hari-hari yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *