Utang 8000 Triliun dan Masifnya Korupsi bukan cuma Soal Ekonomi, Sehatkah SDM Indonesia?

Utang Indonesia kini nyaris tembus Rp8 ribu triliun. Utang tersebut dilakukan secara terus menerus sehingga semakin menambah beban negara dan semakin menguatkan respons kekhawatiran apakah negara ini masih aman terkendali. Di saat yang bersamaan para pejabat ramai-ramai menikmati kepemilikan negara dengan cara yang tidak baik demi kepentingan kelompoknya. Masifnya berita korupsi seakan menjadi konsumsi publik yang wajar-wajar saja.

Dulunya, penjajahan Belanda mewariskan utang di awal kemerdekaan Indonesia sebesar USD 4 miliar. Pemerintahan Indonesia saat itu hanya mampu membayar separuhnya, kemudian diwariskan lagi oleh pemerintahan selanjutnya. Namun, nyatanya kondisi kekuasaan pemerintahan dalam waktu yang sangat lama saat itu yakni lebih dari 30 tahun justru utangnya semakin naik.

Memang, di antara era pemerintahan Indonesia dari awal kemerdekaan hingga saat ini utang negara pernah mengalami penurunan tapi kemudian naik lagi. Lalu ada yang menarasikan utang yang masih tinggi tapi rasio utangnya di angka terendah dengan produk domestik bruto (PDB) yang naik berkali lipat — artinya, negara tetap masih terbebani dengan utang-utang itu alias belum lunas justru semakin membengkak.

DAFTAR ARTIKEL LAINNYA:

Jika data berbicara, riwayat utang dalam kurun waktu hampir satu dekade ini menunjukkan semakin sesaknya negara menanggung bebannya. Terhitung, per Juli 2018, total utang negara sebesar Rp4.253 triliun. Kemudian jalan lima tahun berikutnya, tepatnya per Februari 2023 Kementerian Keuangan RI mencatat utang Indonesia berada dalam kondisi harap-harap cemas yakni Rp7.861,68 triliun dengan rasio utang terhadap PDB berkisar 39,09 persen.

Rasio utang tersebut sudah lewat setengah dari batas maksimal rasio utang 60 persen terhadap PDB. Dengan begitu muncullah alibi sesuai UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahwa rasio utang Pemerintah saat ini masih berada dalam batas aman dan terkendali. Katanya pula, keuangan negara dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Baca juga, yuk! Ibu Kita Kartini Putri Sejati, Pemikirannya soal Emansipasi sampai Pernah Dikira Murtad

Kemudian, kondisi keuangan negara itu disusul dengan berita-berita memilukan dari oknum-oknum penyelenggara negara yang melakukan penyelewengan dengan cara korupsi. Tak hanya sekali dua kali kini korupsi sudah membudaya. Seorang ahli hukum, pernah menjabat ketua Mahkamah Konstitusi, dan sekarang duduk sebagai menteri koordinator mengatakan korupsi saat ini sudah gila-gilaan, baik dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif semuanya melakukan perbuatan keji itu.

Indonesia kini dihadapkan oleh dua tantangan besar yakni utang negara yang makin membengkak dan pejabatnya yang koruptif. Hal ini menunjukkan masalah yang sedang dihadapi negara ini bukan hanya sulitnya keadaan perekonomiannya, tapi juga potret sumber daya manusia (SDM). Utang hingga Rp8 ribu triliun dan budaya korupsi inilah tanda bahwa pembangunan SDM Indonesia bermasalah.

Menurut World Bank, human capital index (indeks pembangunan manusia/ IPM) Indonesia berada di posisi 130 dari 199 negara — begitu pun peringkat EQ Indonesia hanya mampu di urutan keenam se-ASEAN. Secara umum ini terjadi karena faktor kemiskinan, masalah kesehatan termasuk gangguan tumbuh kembang anak (stunting) hingga problem lingkungan sosial. Potret daya saing Indonesia dengan negara ASEAN maupun global ini tentunya perlu dibereskan bersamaan cita-cita Indonesia yang hendak menjadi negara unggul.

Baca juga, yuk! Mengapa Purple Day Disebut Hari Epilepsi Internasional? Pencinta Warna Ungu Wajib Tahu

Semua komponen, terutama Pemerintah, harus serius membereskan masalah pembangunan manusia ini. Potensi-potensi yang ada seharusnya dikapitalisasi dan diakselerasi sehingga menghasilkan SDM Indonesia yang memiliki daya saing kuat dan unggul. Pemerintah juga saat ini tidak bisa santai dalam membangun SDM warga negaranya, apalagi larut dan lena terhadap prestasi-prestasi yang telah dicapai yang sifatnya ilusi dan justru akan menyamarkan target pembangunan SDM Indonesia yang unggul di tingkat global.

Utang dan budaya korupsi seperti dijelaskan sebelumnya adalah masalah yang mendasar bagi pembangunan SDM Indonesia. Lihat saja, laporan Transparency International tahun 2022 menempatkan Indonesia sebagai negara paling korup kelima di Asia Tenggara dengan skor indeks persepsi korupsi (IPK) 34 dari skala 0-100. Sedangkan untuk tingkat global Indonesia berada di peringkat 110 dari 180 negara yang disurvei.

Baca juga, yuk! Jaga Kesehatan Mata dengan Lakukan 3 Langkah Prioritas, Apa Saja?

Dua masalah tersebut akarnya tentu dapat dilihat dari pembangunan SDM yang juga bermasalah ditambah dengan kealpaan mengakomodasi tiga sumber nilai utama bangsa Indonesia, yakni Pancasila, agama, dan budaya luhur bangsa. Ketika seorang ayah sampai hati memberikan nafkah untuk anaknya dengan uang hasil korupsi atau pekerjaan yang tidak berkah, anaknya pun tak dapat disalahkan kalau dia sampai hati menjatuhkan, mempermalukan ayahnya di depan banyak mata. Karena Tuhan sudah memberikan peringatan untuk ‘Makanlah makanan yang baik dan halal’ — tentu dari makanan yang diberikan ayah kepada anaknyalah menjadi asal bagaimana kualitas SDM itu dibentuk.

Adapun lembaga antirasuah (Komisi Pemberantasan Korupsi/ KPK) tentu menjadi kekuatan dan harus dikuatkan (bukan dilemahkan) untuk menjalankan sistem negara yang lebih kondusif. Untuk memberantas korupsi, tentunya KPK harus lebih sensitif terhadap respons publik. Tidak ada politisasi yang berdiri di atas penegakan hukum: tidak mencari-cari kesalahan yang tidak nampak sementara yang jelas-jelas memiliki tanda-tanda penyelewengan tidak cepat ditindak — justru, cara kerja seperti inilah yang mendukung situasi negara makin tidak kondusif.

Indonesia harus dibangun dengan rasa kebersamaan, perjuangan, dan saling ingat-mengingatkan serta menjunjung tinggi nilai demokrasi yang kekuasaannya dipegang penuh oleh rakyatnya. Indonesia saat ini sangat perlu dikuatkan oleh banyak gagasan dengan mengembangkan konsep membangun negara berdasarkan akal pikiran yang sehat, dewasa, dan bermartabat. (Pangerandiksi.com)

Rekomendasi artikel buat kamu

10 Komentar

  1. Permasalahan hutang di Indonesia memang seharusnya segera diselesaikan. Karena itu juga akan berpengaruh pada ekonomi dan SDM di Indonesia. Pemerintah seharusnya lebih bersikap tegas kepada para pejabat yang korupsi karena hal itu tentunya akan merugikan uang negara juga masyarakat.

  2. faktanya saat ini, kita melihat KPK malah jarang sekali membongkar kasus seperti ini. Saya lihat bahkan hal ini sengaja dibongkar hanya untuk memberikan citra buruk pada salah satu partai politik saja. Kita liha apakah semua dalang dalam kasus ini akan dikuak. atau hanya segelintir saja.

    1. Biasa ya kan.. Ini dijadikan alat untuk menjegal lawan politik. Selalu berulang di setiap tahun pemilihan.

  3. Utang oh utang….
    Ngerih kalo dah utang-utangan gini.
    Besar tanggung jawabnya.
    Kalau diibaratkan manusia nih ya, mati tapi masih berutang, jadi beban untuk si mayit.
    Iya kalo ahli waris bisa segera melunasi, tapi kalo malah utangnya ditambah?
    Berabeh babeh
    Takutnya negara kita jadi dianggap bangkrut kek Yunani..
    Bubarr…
    Naudzubillahi min dzalik

  4. Permasalahan hutang di Indonesia memang seharusnya segera diselesaikan, Terkait dengan permasalahan utang yang mencapai 8000 triliun dan masifnya korupsi di Indonesia, hal ini tidak hanya menjadi masalah ekonomi semata, tetapi juga menggambarkan kondisi sumber daya manusia (SDM) di negara ini. Utang yang terus meningkat dan budaya korupsi yang mengakar menunjukkan adanya masalah dalam pembangunan SDM Indonesia.

  5. Memang negara2 didunia ini hampir semuanya punya hutang, ga terkecuali negara maju. Tapi saya yakin indonesia bisa jadi negara maju walaupun tanpa hutang. Karena rakyatnya banyak, sda ada.

  6. Saya semakin pengen kalo orang-orang yang korupsi itu dimiskinkan dan dirampas asetnya oleh negara.
    Sayang, seribu sayang bahkan orang yang flexing dengan harta korupsi saja masih banyak. Hikssss

  7. Sedih banget liat makin kesini, malah makin marak korupsi bukannya berkurang. Jangankan pejabat, rakyat jelata aja sering banget kita jumpai ngambil hak orang lain kaya bawa pulang piring restoren cepat saji, ups…

  8. sebenanrnya menarik membahas SDM dan keuangan negara ini, krn hubungannya sangat erat dan udah kaya lingkaran setan muter2 disitu. apalagi kalau dibandingkan sm negara2 lain, orang terkaya disana aja gak ada apa2nya dibanding sm orang terkaya disini. tp kebutuhan untuk kualitas hidup yg baik bisa dipenuhi sm negaranya, beda sm kita yg harus berlomba2 untuk bisa hidup dgan layak. perilaku hutang ini jg semakin dinormalkan dgan paylater dsb. gak tau mau mulai dr mana, krn rasanya kompleks sekali

  9. Saya suka nih topic ngomongin utang, apalagi utang Indonesia yang bejibun 7 turunan hha.

    Jujur, kalo hutang terus di salurin ke masyarakat, digunakan dengan bijaksana, gk masalah. Yang menjadi masalah itu adalah, ketika ngutang terus di uang hasil pinjaman di korupsi, itulah yang bikin negara gk maju maju. Pendidikan sumber daya manusia jadi terhambat. Dan masih banyak lagi problem yang timbul dair korupsi ini.

    Cermat ya dalam memilih nanti di 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *